Kampus, Pendidikan
TEMANGGUNG – Tim II KKN-T 56 Universitas Diponegoro (Undip) berhasil menyelesaikan program “Pemetaan Sistem Pertanian Berkelanjutan Berbasis Analisis Spasial” di Desa Glapansari, Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung.
Program ini menghasilkan delapan pemetaan yang mencakup perubahan tutupan lahan, lokasi optimal sarana pertanian, lahan kritis, alih fungsi lahan, persebaran komoditas, zonasi pertanian, aliran hasil pertanian, hingga kerentanan bencana.
Data tersebut diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi Pemerintah Desa Glapansari dan masyarakat dalam merencanakan pengembangan pertanian secara berkelanjutan.
Lahan Pertanian di Glapansari semakin Menyusut
Salah satu temuan menarik berasal dari analisis perubahan tutupan lahan yang dilakukan Zahwa Maharani. Dengan membandingkan kondisi lahan tahun 2020 dan 2025, ditemukan adanya penyusutan lahan pertanian sekitar 6,27%. Di sisi lain, area terbangun meningkat sekitar 0,83%.
Temuan ini menjadi perhatian karena perubahan penggunaan lahan dapat berpengaruh terhadap keberlanjutan sektor pertanian. Data tersebut diharapkan dapat membantu pemerintah desa dalam menentukan arah tata guna lahan ke depan.
Zahwa juga melakukan pemetaan lokasi optimal untuk mendukung peningkatan nilai tambah sejumlah komoditas unggulan seperti tembakau, cabai, bawang, dan kopi.
Namun, hasil diskusi dengan petani menunjukkan kebutuhan yang lebih mendesak, yakni akses menuju lahan. Para petani berharap adanya pembangunan jalan usaha tani (JUT) untuk mempermudah mobilitas dan meningkatkan efisiensi kegiatan pertanian.
Pemetaan Lahan Kritis dan Alih Fungsi lahan di Glapansari
Persoalan keberlanjutan lahan juga dikaji Kristoforus Riandra Purnomo melalui pemetaan lahan kritis. Analisis mempertimbangkan sejumlah faktor, antara lain erosi, curah hujan, dan penggunaan lahan.
Hasilnya dapat digunakan untuk menentukan wilayah yang membutuhkan pemulihan dan menjadi prioritas pembangunan desa.
Sementara itu, Ananda Wasis Setiyo Budi memetakan limitasi alih fungsi lahan pertanian. Kajian tersebut memberikan gambaran mengenai lokasi yang dapat dikembangkan maupun yang perlu dipertahankan sebagai lahan pertanian.
Komoditas pertanian dan Jalur Distribusi Desa Glapansari
Alga Sherwin Wicaksana memetakan persebaran sejumlah komoditas pertanian Glapansari, seperti tembakau, cabai, bawang merah, dan bawang putih.
Data mengenai jenis komoditas, produktivitas, masa tanam, dan lokasi penanaman kemudian digunakan untuk menyusun zonasi pertanian berdasarkan karakteristik ekologis dan kondisi lahan.
Sementara itu, Nisrina Mufidah Heriff memetakan aliran hasil pertanian dari petani menuju pasar. Hasilnya menunjukkan sebagian besar komoditas didistribusikan ke Pasar Parakan dan Pasar Temanggung melalui tengkulak. Sebagian petani lainnya memilih menjual langsung kepada konsumen.
Pemetaan Kerentanan Bencana di Glapansari
Aspek kebencanaan juga menjadi bagian dari program. Alifia Rahma memetakan tingkat kerentanan bencana dengan mempertimbangkan aspek fisik, sosial, dan ekonomi. Pemetaan ini memberikan gambaran mengenai wilayah dan kelompok masyarakat yang memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi sehingga dapat menjadi dasar penentuan prioritas mitigasi bencana.
Seluruh hasil dari delapan pemetaan tersebut akan diserahkan kepada Pemerintah Desa Glapansari. Mahasiswa KKN-T 56 Undip berharap data spasial yang dihasilkan tidak hanya menjadi produk kegiatan KKN, tetapi dapat dimanfaatkan dalam penyusunan kebijakan dan pembangunan desa.
Program ini sekaligus menjadi upaya mendorong pemanfaatan data dan teknologi spasial untuk menjaga lahan pertanian, meningkatkan produktivitas, memperkuat distribusi hasil pertanian, serta mendukung kesejahteraan masyarakat Glapansari secara berkelanjutan.
Kampus, Pendidikan
Lulus S3 di Usia 27 Tahun, Yesita Vera Buktikan Mimpi Besar Butuh Perjuangan Panjang
| Yesita Vera Saraswati (Foto: Istimewa) |
Siapa bilang gelar doktor cuma bisa diraih di usia kepala empat? Yesita Vera Saraswati berhasil mematahkan anggapan itu. Perempuan asal Klaten, Jawa Tengah, ini resmi menyandang gelar doktor di usia 27 tahun 10 bulan. Namanya bahkan tercatat sebagai wisudawan termuda Program Doktor dalam Wisuda Pascasarjana Periode IV Universitas Gadjah Mada (UGM) yang digelar di Grha Sabha Pramana, Rabu (23/7).
Perempuan yang akrab disapa Sita itu menyelesaikan Program Studi Doktor Ilmu Peternakan dengan predikat cumlaude dan nyaris sempurna. Ia mengantongi Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,99 setelah menjalani perjuangan selama 3 tahun 9 bulan 10 hari. Capaian tersebut terasa semakin spesial karena rata-rata usia lulusan doktor UGM pada periode yang sama mencapai lebih dari 42 tahun.
Di balik senyum bahagianya saat wisuda, Sita mengaku perjalanan menuju gelar doktor bukan sesuatu yang mudah. Ada banyak momen penuh tekanan, rasa lelah, hingga keraguan yang harus ia hadapi selama menempuh studi.
"Rasanya luar biasa. Ada perasaan lega ketika segala sesuatu yang dulunya terasa sangat berat akhirnya terbayar setelah lulus," ungkapnya.
Menariknya, tantangan yang dihadapi Sita bukan hanya soal menyelesaikan disertasi. Selama penelitian, ia juga dipercaya memimpin tim besar yang terdiri dari sekitar 70 hingga 80 mahasiswa jenjang S1 dan S2 dari berbagai laboratorium.
Bayangkan saja, di saat harus fokus menulis disertasi, ia juga bertanggung jawab mengatur jalannya penelitian, membagi tugas, hingga memastikan seluruh anggota tim bisa menyelesaikan target masing-masing. Pengalaman itu justru membentuk kemampuan manajemen dan kepemimpinannya.
Kesempatan menempuh pendidikan doktor sendiri datang secara tak terduga. Saat pandemi Covid-19 melanda, Sita memutuskan mengikuti Program Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) di Fakultas Peternakan UGM. Keputusan tersebut menjadi titik awal perjalanan akademiknya hingga berhasil menyandang gelar doktor di usia muda.
Dalam disertasinya yang berjudul Studi Karakteristik Eksterior dan Genetik Ayam Lokal dan Persilangannya, Sita meneliti pengembangan ayam lokal melalui proses persilangan dan seleksi genetik. Tujuannya bukan sekadar menghasilkan penelitian ilmiah, tetapi juga menciptakan galur ayam lokal baru yang lebih unggul dan mampu mendukung ketahanan pangan nasional.
Penelitian tersebut membutuhkan proses yang sangat panjang. Bersama timnya, Sita harus mengawinkan ayam, memeliharanya hingga berusia sekitar 32 minggu, lalu kembali melakukan persilangan untuk menghasilkan generasi berikutnya. Seluruh proses itu dilakukan berulang kali hingga mencapai generasi kelima.
Tak hanya berkutat di laboratorium, Sita juga aktif mengikuti organisasi kampus dan kegiatan seni budaya seperti karawitan. Baginya, menjaga keseimbangan antara akademik, organisasi, dan kehidupan sosial adalah kunci agar tetap sehat secara mental selama menjalani pendidikan.
Kini, setelah resmi menyandang gelar doktor, Sita mantap menatap masa depan sebagai seorang akademisi. Impian menjadi dosen sebenarnya sudah tumbuh sejak duduk di bangku SMA, ketika ia gemar mengajari anak-anak di lingkungan rumahnya.
Bagi Sita, gelar doktor bukanlah garis finis. Justru sebaliknya, pencapaian itu menjadi langkah awal untuk terus belajar, berkarya, dan memberikan manfaat bagi masyarakat melalui pendidikan serta penelitian. Kisahnya menjadi bukti bahwa usia muda bukan penghalang untuk meraih prestasi besar, selama ada kerja keras, konsistensi, dan keberanian untuk terus melangkah.
Kampus, Pendidikan
Kampus, Pendidikan
![]() |
Gedung Kembar IAIN Salatiga. (foto: sugito)
|
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin ketika meresmikan gedung kembar kampus tiga IAIN Salatiga, Jawa Tengah, Jumat (27/01) ini mengapresiasi pembangunan gedung baru di kampus tiga IAIN Salatiga yang sumber dananya berasal dari SBSN. Kehadiran gedung ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di kampus dan kepercayaan masyarakat terhadap IAIN Salatiga. Keberadaan dua gedung baru ini diperkirakan dapat menampung 5000 mahasiswa.
Di hadapan civitas akademika IAIN Salatiga, Menag mengatakan bahwa Kementerian Agama terus berupaya melakukan peningkatan sarana pra sarana kampus berbasis SBSN. Ke depan, Kemenag akan meyakinkan Kementerian Keuangan, Bapenas dan stakeholder lainnya agar dana SBSN juga dapat digunakan untuk pembangunan lembaga pendidikan seperti madrasah dan pondok pesantren. Sebagaimana diketahui, gedung yang dibangun sejak 24 Juni 2015 ini, selesai pada 31 Desember 2016 dengan dana sebesar Rp90 Milar dengan 3 lantai. Lantai 1 Gedung KH. Hasyim Ashari digunakan untuk ruang administrasi dan rektorat. Sebagian lantai 2 dan 3 digunakan sebagai ruang kuliah.
Dalam kesempatan itu, Menag juga memberikan kuliah umum tentang Peran PTKIN dalam Meneguhkan Kebhinekaan NKRI. Menurut Menag, PTKIN ke depan harus lebih fokus dalam menebarkan moderasi Islam dalam menjaga ke-Indonesiaan. Sebab, lanjutnya, hanya paham keagamaan yang moderatlah yang bisa mengawal bangsa majemuk agar tetap terjaga keutuhannya.
PTKIN, kata Menag, menjadi entitas penting dan otoritatif untuk berbicara tentang moderasi Islam. Karena itu, sudah seharusnya PTKIN mengembangkan pusat moderasi Islam yang kaya dengan literatur serta dikaitkan dengan kondisi kekinian. Dengan begitu, generasi bangsa ke depan akan memiliki pemahaman yang luas tentang nilai kebhinekaan dan nilai Islam yang rahmatan lill alamin.
Selain itu, PTKIN juga harus berkontribusi dalam perkembangan teknologi informasi. PTKIN dituntut mampu memberikan edukasi kepada masyarakat tentang bagaimana menyikapi dunia maya dan media sosial. Masyarakat membutuhkan wawasan tentang bagaimana menyikapi arus informasu yang demikian deras sehingga mereka terhindar dari sikap saling menghina, mencela, memaki, dan memecah belah bangsa.
Rektor IAIN Salatiga Rahmat Hariyadi menegaskan komitmennya untuk memperluas peran dan kontribusi IAIN dalam menguhkan nilai-nilai toleransi dan kebhinekaan. IAIN akan terus memberikan kesadaran dan pemahaman kepada mahasiswa dan stakeholders akan keberadaan mereka sebagai orang Indonesia yang beragama Islam bukan orang Islam yang tinggal di Indonesia. (Kementerian Agama RI)
Kampus, Pendidikan
![]() | |
| Penyampaian Makalah oleh Susi Pudjiastuti (Mustholih/Okezone) |
Meskipun tingkat pendidikan formal Menteri yang berasal dari Pangandaran Jawa Barat ini hanya lulusan SMP dan berhenti ketika kelas XI SMA, namun pihak Senat Universitas Diponegoro yang memberikan kelar tersebut menganggap bahwa Susi berhak menerimanya. Kegiatan-kegiatan yang dilakukannya secara langsung maupun tidak langsung sudah memberikan sumbangsih yang cukup besar bagi kemajuan ilmu pengetahuan khususnya terkait dengan bidang yang diembannya yaitu kelautan dan perikanan.
“Secara akademik, metode yang dilakukan beliau lakukan (saat bertugas memimpin departemen yang diberi bhak untuk mengelola 2/3 wilayah negara kita ini) sangat runtut, rasional dan tepat,” kata Yos Johan Rektor Undip sebagaimana dirilis dari situs berita www.tempo.co.
Upacara penganugerahan Doktor Honoris Causa itu sendiri digelar oleh Senat Undip pada pukul 10.00 WIB di Gedung Prof Soedharto, Kampus Undip Tembalang. Di depan hadirin dan sejumlah guru besar Undip, Susi membacakan pokok-pokok pikirannya yang disusun dalam makalah berjudul Pemberantasan Illegal, Unreported, and Unregulates Fishing setebal 53 halaman. Beberapa hal yang bisa diambil dari pemaparannya tersebut vantara lain bahwa untuk mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia, permasalahan illegal, unreported, and unregulated fishing yang menjadi permasalahan utama pengelolaan kelautan dan perikanan harus dijawab dengan menegakkan 3 pilar pembangunan kelautan dan perikanan yaitu kedaulatan, keberlanjutan, dan kesejahteraan.
Kedaulatan perlu ditegakkan agar bangsa Indonesia dapat bebas menentukan nasibnya sendiri di laut. Adapun keberlanjutan memiliki arti penting bahwa kekayaan laut kita harus mampu menopang pembangunan nasional dan meningkatkan kualitas hidup bangsa Indonesia sekarang maupun yang akan datang. Sedangkan kesejahteraan berarti pembangunan kelautan dan perikanan harus mampu mencapai tujuan negara sesuai amanat alenia keempat pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Kesejahteraan yang vinngin dicapai bukan hanya berkaitan dengan penghasilan ekonomi yang meningkat, tapi juga perbaikan dalam semua unsur kehidupan nelayan termasuk human security.
Sedangkan Menteri Kelautan dan Perikanan sendiri ketika diwawancarai oleh sejumlah wartawan menyatakan bahwa Beliau merasa tersanjung dengan gelar yang diberikan kepadanya. Gelar tersebut dianggapnya sebagai amanah yang harus diemban dengan sebaik-baiknya dan penuh tanggung jawab. Pada saat komunikasi awal terkait pemberian gelar tersebut, semula Susi merasa tidak pantas, sehingga pihaknya meminta Undip melakukan uji kompetensi terlebih dahulu. Permintaan tersebut disanggupi oleh Undip dengan mengirimkan Tim penguji untuk datang ke rumahnya untuk melakukan tanya jawab. Dan hasilnya Ibu Menteri mendapatkan nilai sembilan atau setara dengan gelar doktor dan diakui oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Dan satu hal yang menarik dari sosok menteri wanita yang penuh kontroversial ketika menjalankan tugas ini adalah pernyataannya bahwa dia akan tetap biasa saja setelah ia menerima gelar honoris causa. Harapannya yang lain adalah agar gelar yang diperolehnya tersebut bisa menjadi inspirasi bagi orang-orang yang ingin memajukan Indonesia namun pernah terkendala masalah pendidikan.
Top 5 Popular of The Week
-
Kebijakan Pemberantasan Ilegal Fishing antarkan Susi Pudjiastuti Raih gelar Doktor dari Undip Penyampaian Makalah oleh Susi Pu...
-
Geevv.com Mesin Pencari Buatan Anak Indonesia Mesin pencari (search engine) merupakan salah satu halaman yang banyak dukunjungi...
-
450 Pendamping Kotaku Jawa Tengah mengikuti Penguatan Kapasitas secara Serentak Peningkatan Kapasitas Kotaku Jateng Sebanyak 45...
-
Penataan Permukiman Kumuh Ala “Kotaku”, Tarik Perhatian Tiga Menteri. Kelurahan Karangwaru Tegalrejo Yogyakarta (foto: kompa...
-
Silaturahmi GP Ansor ke PP Muhammadiyah: Membangun Semangat Kebangsaan dengan Saling Bersinergi Silaturahmi GP Anshor. foto: ...
-
Walikota Bontang dr Neni Moerniaeni (Foto: klikbontang/sastro) Kota Bontang menjadi salah satu kota percontotah dalam pelaksanaan progr...
-
Sebagai wujud komitmen dari Presiden Joko Widodo dalam penyebaran pembangunan infrastruktur yang merata di seluruh wilayah Indonesia, p...
-
Poster Karya Dua Dosen ISI Surakarta di Pamerkan di Catalunya Spanyol Kabar baik datang dari ISI Surakarta. Dua orang dosennya, Ren...
-
Ser un agente de bienes raíces puede decirse que es difícil difícil fácil, porque cada cliente encontrado proviene de carácter y un tipo ...
-
Atlet bulu tangkis ganda campuran Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir akhirnya berhasil menjadi juara dalam turnamen Malaysia Terbuka...



