,

    Desak Made Rita Kusuma Dewi

    Dari sebuah dinding panjat di Taman Kota Singaraja, perjalanan Desak Made Rita Kusuma Dewi dimulai. Tidak ada yang menyangka, perkenalan sederhana dengan olahraga panjat tebing itu kelak membawa gadis asal Buleleng, Bali, tersebut menjadi salah satu atlet speed climbing terbaik Indonesia.

    Desak Made Rita lahir pada 24 Januari 2001. Ia mulai serius berkompetisi pada 2018, ketika usianya masih belasan tahun. Nomor speed menjadi pilihannya. Di nomor inilah kecepatan, keberanian, konsentrasi, dan ketepatan gerakan bertemu dalam hitungan detik.

    Rita tumbuh dari kompetisi junior. Pada Kejuaraan Nasional Kelompok Umur di Riau pada 2018, ia langsung menunjukkan bakatnya dengan meraih dua medali emas. Ia menjadi yang terbaik pada nomor Speed World Record Youth A Putri dan Boulder Youth A Putri.

    Prestasi itu menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih panjang. Pada tahun yang sama, Rita tampil di Asian Youth Championships di Chongqing, China, dan finis di posisi keempat.

    Langkahnya kemudian beranjak ke panggung senior.

    Di PON XX Papua 2021, Rita mempersembahkan medali emas untuk Bali pada nomor speed putri. Waktu 7,01 detik yang dicatatnya di final menjadi gambaran awal betapa cepatnya atlet muda tersebut melesat.

    Pada tahun yang sama, ia mulai mencicipi atmosfer Piala Dunia. Di Villars, Swiss, Rita finis di posisi keempat. Hasil itu menjadi penanda bahwa namanya mulai diperhitungkan di panggung internasional.

    Perjalanan menuju puncak tidak berlangsung dalam semalam. Tahun 2022 memberinya dua medali perunggu dari seri Piala Dunia di Villars dan Chamonix. Setahun kemudian, koleksinya bertambah dengan dua perak dan satu perunggu.

    Lalu datanglah 2023.

    Di Kejuaraan Dunia di Bern, Swiss, Rita mencapai salah satu titik tertinggi dalam kariernya. Ia melaju hingga final nomor speed putri dan berhadapan dengan Emma Hunt.

    Dalam duel yang hanya berlangsung dalam hitungan detik itu, Rita menjadi pemenang. Medali emas berada di tangannya. Dunia pun mengenal nama Desak Made Rita Kusuma Dewi sebagai juara dunia speed climbing.

    Pada tahun yang sama, ia kembali menunjukkan kelasnya di Asian Games Hangzhou 2022 yang pelaksanaannya berlangsung pada 2023. Rita meraih medali emas nomor speed putri dan semakin mengukuhkan dirinya sebagai salah satu kekuatan utama panjat tebing Indonesia.

    Olimpiade Paris 2024 menjadi panggung berikutnya. Rita finis di posisi keenam. Meski belum membawa pulang medali, pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari proses panjang seorang atlet yang terus belajar menghadapi tekanan kompetisi tertinggi.

    Pada 2025, Rita kembali memperlihatkan konsistensinya. Ia menjadi juara Piala Dunia di Krakow dan menutup musim dengan menempati peringkat ketiga klasemen Piala Dunia nomor speed putri.

    Namun, Rita belum berhenti.

    Pada 2026, kecepatannya kembali berbicara. Di Kejuaraan Asia di Meishan, China, ia meraih medali emas sekaligus memecahkan rekor Asia nomor speed putri dengan catatan 6,07 detik.

    Angka itu mungkin hanya terlihat sebagai sepersekian detik di papan waktu. Tetapi di balik 6,07 detik terdapat bertahun-tahun latihan, jatuh-bangun, tekanan pertandingan, dan keberanian untuk terus memanjat lebih tinggi.

    Performa Rita sepanjang 2026 juga tetap konsisten. Ia menjadi juara di Krakow pada 5 Juli dan kembali finis pertama di Chamonix pada 12 Juli. Sebelumnya, ia menempati posisi ketiga di Wujiang dan posisi kesembilan di Comunidad de Madrid.

    Kini, perhatian kembali mengarah kepada Rita menjelang Asian Games 2026 Aichi-Nagoya, Jepang.

    Dari Taman Kota Singaraja hingga panggung dunia, perjalanan Desak Made Rita bukan sekadar kisah tentang kecepatan. Ini adalah cerita tentang seorang anak Bali yang menemukan jalan hidupnya di dinding panjat, kemudian mengubah setiap detik menjadi kesempatan untuk mencetak sejarah.

    Dan ketika kaki Rita menapak di dinding, hanya ada satu tujuan: bergerak secepat mungkin menuju puncak.

    ,

    Bonus Rp3 Miliar bagi Peraih Emas Asian Games 2026

    Jakarta - Presiden Prabowo Subianto menyiapkan bonus jumbo bagi atlet Indonesia yang berhasil meraih medali emas di Asian Games 2026. Setiap peraih emas dijanjikan bonus Rp3 miliar. Janji tersebut disampaikan Prabowo saat melepas kontingen Indonesia menuju Asian Games 2026 di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (9/9/2026).

    Besaran bonus itu tiga kali lipat dari bonus yang disebut disiapkan untuk peraih medali emas SEA Games, yakni Rp1 miliar. Namun, hingga saat ini belum ada rincian mengenai besaran bonus untuk atlet yang membawa pulang medali perak dan perunggu.

    Prabowo tidak hanya menjanjikan bonus uang. Atlet dan pelatih yang berhasil mencatatkan prestasi juga berpeluang mendapatkan percepatan karier.

    Kebijakan tersebut terutama diarahkan bagi atlet maupun pelatih yang berstatus sebagai aparatur negara. Salah satu contoh yang disoroti adalah polisi wanita berpangkat AKBP yang memiliki prestasi di bidang olahraga.

    Prabowo telah meminta Kapolri untuk mempertimbangkan kenaikan pangkat bagi polisi wanita tersebut. Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memberikan penghargaan lebih luas kepada mereka yang mengharumkan nama Indonesia melalui olahraga.

    Untuk Asian Games 2026, Indonesia mengirimkan 432 atlet. Mereka akan bertanding di 35 cabang olahraga dalam ajang yang berlangsung di Nagoya, Jepang.

    Pelepasan kontingen ditandai dengan penyerahan bendera Merah Putih kepada perwakilan atlet. Bendera tersebut menjadi simbol tugas para atlet untuk membawa nama Indonesia dalam persaingan olahraga tingkat Asia.
    Bagi pemerintah, olahraga tidak hanya soal perolehan medali. Kekuatan fisik, keterampilan, disiplin, dan daya juang masyarakat dipandang sebagai bagian dari kekuatan sebuah bangsa.

    Kini, para atlet Indonesia membawa target sekaligus insentif besar. Medali emas Asian Games 2026 bukan hanya menjadi simbol prestasi, tetapi juga bernilai Rp3 miliar bagi setiap atlet yang mampu merebutnya.




⬆
Top