Sains, Sainstek
Gelombang penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang semula digadang-gadang mampu menghemat biaya operasional kini mulai menghadirkan persoalan baru. Sejumlah perusahaan teknologi besar disebut harus menghadapi tagihan penggunaan AI yang terus membengkak.
Perusahaan seperti Microsoft, Uber, Amazon hingga Meta dilaporkan mulai lebih berhati-hati dalam menggunakan berbagai perangkat berbasis AI. Pasalnya, biaya operasional teknologi tersebut dalam beberapa kasus disebut mulai menyaingi, bahkan melampaui, pengeluaran untuk tenaga kerja manusia.
Salah satu pemicunya adalah fenomena yang dikenal dengan istilah token maxing. Praktik ini muncul ketika perusahaan mendorong penggunaan AI secara masif dan menjadikannya sebagai salah satu indikator produktivitas karyawan.
Alih-alih hanya menggunakan AI untuk pekerjaan yang benar-benar membutuhkan, sebagian pekerja justru memanfaatkan teknologi tersebut secara berlebihan. Bahkan, tugas-tugas sederhana pun diproses menggunakan AI demi menunjukkan tingkat adopsi dan produktivitas yang tinggi.
Penggunaan token yang meningkat tajam itu pada akhirnya berdampak langsung pada biaya komputasi perusahaan. Semakin banyak permintaan yang diproses oleh model AI, semakin besar pula sumber daya komputasi yang dibutuhkan.
Di sisi lain, ketersediaan infrastruktur pendukung seperti layanan cloud dan pusat data juga menjadi persoalan tersendiri. Permintaan komputasi yang terus meningkat tidak selalu diimbangi dengan pertumbuhan infrastruktur, sehingga biaya penggunaan AI ikut terdorong naik.
Menurut laporan yang dikutip dari Bloomberg, biaya penggunaan token untuk Large Language Model (LLM) mengalami kenaikan signifikan. Situasi tersebut juga diperumit oleh berbagai kendala pembangunan pusat data di Amerika Serikat, termasuk keterbatasan komponen elektronik.
Kondisi ini tentu menjadi peluang besar bagi perusahaan pengembang model AI seperti OpenAI dan Anthropic. Permintaan komputasi yang terus meningkat membuat kebutuhan terhadap layanan mereka semakin besar.
Namun, model bisnis industri AI juga masih menjadi perhatian. Sejumlah analis menilai pertumbuhan layanan AI saat ini masih sangat bergantung pada pendanaan investor dan subsidi untuk menjaga harga tetap kompetitif.
Ke depan, situasi tersebut bisa berubah. Ketika perusahaan-perusahaan AI mulai memasuki fase bisnis yang lebih matang, termasuk kemungkinan melakukan penawaran saham perdana atau IPO, harga layanan AI berpotensi mengalami penyesuaian.
Jika harga token meningkat menuju tingkat yang lebih mencerminkan biaya operasional sebenarnya, perusahaan pengguna AI bisa menghadapi tagihan yang jauh lebih besar.
Harapan bahwa AI dapat menggantikan tenaga kerja manusia dengan biaya lebih murah pun mulai diuji oleh realitas ekonomi. Teknologi ini memang mampu meningkatkan produktivitas, tetapi penggunaan tanpa kontrol justru dapat memunculkan biaya baru yang tidak kecil.
Kini, perusahaan global tampaknya tidak lagi hanya bertanya seberapa cepat AI bisa diterapkan. Pertanyaan yang mulai mengemuka adalah: apakah penggunaan AI benar-benar lebih murah dan efisien dibandingkan cara kerja yang selama ini sudah berjalan?
Fenomena tersebut menjadi pengingat bahwa di batik kecanggihan AI, ada biaya komputasi, infrastruktur, dan energi yang harus dibayar. Bagi perusahaan, tantangan berikutnya bukan sekadar memperluas penggunaan AI, melainkan memastikan setiap token yang digunakan benar-benar memberikan nilai bagi bisnis.
Internet, Sainstek
Salah satu mesin pencari (search engine) yang sedang menggeliat saat ini adalag Geevv.com yang ternyata dibuat dan dikembangkan oleh mahasiswi asal Indonesia, Azka A Silmi. Berbeda dari produk sejenis yang sudah eksis, produk bikinannya dan tim tersebut lebih ditujukan bagi kegiatan sosial.
Kegiatan sosial yang dimaksud termasuk model bisnis yang dipraktikkan, di mana 80 persen pendapatan iklan didonasikan untuk program sosial, dan target pengguna yang spesifik.
Azka, saat ditemui Tribunnews.com pada hari Rabu (9/11/2016) di Jakarta, mengatakan bahwa Geevv memang ditujukan untuk bermain di pasar khusus.
“Ini adalah social search engine, bukan local search engine,” sebutnya.
Konsep social search engine yang dimaksudkannya itu, pada masa awal ini berjalan dengan mekanisme, setiap kata yang diketikkan pengguna di kolom pencarian secara otomatis dikonversi menjadi sumbangan senilai Rp 10. Besaran Rp 10 itu ditentukan dari nilai pembagian antara potensi jumlah iklan dan potensi jumlah pengguna, dikurangi proyeksi biaya operasional.
Asal uang yang didonasikan dengan besaran yang dihitung dari jumlah pencarian oleh pengguna, pada masa awal ini untuk sementawa waktu berasal dari investasi modal. Mekanisme tersebut setidaknya bakal dipraktikkan selama sekitar tiga bulan sejak versi beta Geevv diluncurkan pada 26 September lalu. Inilah masa yang dipergunakan untuk melih at respons publik dan umpan balik yang dibutuhkan.
Selain itu, juga diperuntukkan guna menarik minat sebanyak mungkin pengguna, yang hingga saat ini tercatat sekitar 200 ribu pengguna telah memanfaatkan Geevv untuk melakukan pencarian di belantara internet sekaligus melakukan donasi.
Setelah itu, mekanisme asal donasi bakal berasal dari pendapatan iklan yang dipasang di Geevv dan bakal dihitung berdasarkan metode pay per click dan pay per view. Pendapatan iklan ini, tetap bakal terus dengan komitmen dimana 80 persen hasilnya bakal didonasikan untuk program perbaikan kesehatan, pendidikan, dan pengentasan kemiskinan. Sejumlah program sosial tersebut, juga bakal dilaksanakan oleh Geevv.
“Kita tidak mau menjadikan (program bantuan sosial) hanya sebagai kampanye,” kata Azka.
Azma yang kini masih tercatat sebagai mahasiswi semester IX Program Studi Ilmu Administrasi Fiskal, Universitas Indonesia ini dibantu oleh Andika Deni dan teman-temannya yang lain seperti Mugi Silih Mulyadi (social project management), Hana B. Adiningsih (blog writer), Janu Prasetya (social media & content manager), dan M. Ichlas (administrator) dalam mengelola Geevv.com sehari-hari. Semoga saja search engine besutan anak Indonesia ini mampu bersaing di tingkat global dan menjadi rujukan utama bagi pengguna internet di seluruh dunia.
Sumber : Tribunnews.com
Gadget, Sainstek
![]() |
| Konferensi Pers BRTI (Foto: Ahmad Luthfi/okezone) |
Sebelumnya, pelanggan yang membeli kartu prabayar sebenarnya sudah diwajibkan untuk melakukan registrasi sejak 2005 lalu, namun dalam pelaksanaannya operator banyak menerima keluhan dari pelanggan. Kartu identitas yang ditunjukkan bisa berupa KTP, SIM, atau paspor yang masih berlaku dan berdasarkan kartu identitas tersebut, penjual kartu perdana prabayar yang selanjutnya melakukan registrasi pelanggan. Mekanismenya, registrasi prabayar menggunakan SIM Tool Kit 4444 yang dimodifikasi atau memakai perangkat registrasi lain yang disediakan operator dengan menambahkan identitas (ID) milik penjual kartu prabayar.
Pendataan yang lebih terverifikasi ini berguna untuk mencegah penyalahgunaan penggunaan nomor prabayar sebagaimana banyak terjadi selama ini. Upaya ini sebenarnya dilakukan sebagai upaya perlindungan konsumen, karena banyak aksi kejahatan melalui telepon seluler yang tidak bisa terlacak secara sempurna karena kemudahan masyarakat dalam mendapatkan kartu telekomunikasi pra bayar sekali pakai.
Sumber: Okezone
Top 5 Popular of The Week
-
Kebijakan Pemberantasan Ilegal Fishing antarkan Susi Pudjiastuti Raih gelar Doktor dari Undip Penyampaian Makalah oleh Susi Pu...
-
Geevv.com Mesin Pencari Buatan Anak Indonesia Mesin pencari (search engine) merupakan salah satu halaman yang banyak dukunjungi...
-
Walikota Bontang dr Neni Moerniaeni (Foto: klikbontang/sastro) Kota Bontang menjadi salah satu kota percontotah dalam pelaksanaan progr...
-
450 Pendamping Kotaku Jawa Tengah mengikuti Penguatan Kapasitas secara Serentak Peningkatan Kapasitas Kotaku Jateng Sebanyak 45...
-
Penataan Permukiman Kumuh Ala “Kotaku”, Tarik Perhatian Tiga Menteri. Kelurahan Karangwaru Tegalrejo Yogyakarta (foto: kompa...
-
Silaturahmi GP Ansor ke PP Muhammadiyah: Membangun Semangat Kebangsaan dengan Saling Bersinergi Silaturahmi GP Anshor. foto: ...
-
Sebagai wujud komitmen dari Presiden Joko Widodo dalam penyebaran pembangunan infrastruktur yang merata di seluruh wilayah Indonesia, p...
-
Poster Karya Dua Dosen ISI Surakarta di Pamerkan di Catalunya Spanyol Kabar baik datang dari ISI Surakarta. Dua orang dosennya, Ren...
-
Ser un agente de bienes raíces puede decirse que es difícil difícil fácil, porque cada cliente encontrado proviene de carácter y un tipo ...
-
Atlet bulu tangkis ganda campuran Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir akhirnya berhasil menjadi juara dalam turnamen Malaysia Terbuka...


